Cerpen : Catatan Terakhir Tasya

CATATAN TERAKHIR TASYA


Hidup itu bagaikan roda yang berputar. Aku percaya itu, karenanya aku berdiri di sini, menghadiri hari bahagia sekaligus kecewa. Kecewa karena berpisah dengan mereka yang senantiasa menyapa, sakit rasanya hingga air mata tak kunjung reda. Akankah kisah ini berakhir sekarang juga? Kisah dimana aku berjumpa dengan mereka yang mempunyai sejuta cerita, hingga kita melewati berbagai hal bersama-sama. Suka-duka, manis-pahit kisah ini hanya akan menjadi cerita pada anak cucu kita. Menyukai seseorang yang nyatanya sahabat kita pun menyukainya, bertengkar hebat hanya karena sebuah pen hingga di setrap bersama. Kawan, jangan pernah lupakan aku dalam hatimu. Apapun yang terjadi, aku mohon. Kenanglah aku dan semua yang ada dalam diriku di hatimu.

Aku tersenyum saat para sahabatku menghampiri, mengajak berfoto sebagai kenangan. Di sana mereka berdiri dengan seorang fotografer yang telah kami sewa jauh-jauh hari sebelum acara sakral ini terselenggara. Untuk apa foto bila kita masih bisa bertatap muka? Oh, shitt! Mataku kembali memanas, menahan air mata juga nyeri yang teramat dalam dadaku. Senyum Sya, aku yakin kamu kuat. Tersenyumlah. Tolong, berikan yang terbaik pada mereka, Sya. mereka butuh senyum bukan air mata. Aku terus berdoa dalam hati untuk tidak menjerit melampiaskan rasa sakit yang teramat dalam.

"Aku sayang kalian, teramat sayang" bisikku di telinga kiri Caca, salah satu sahabat karibku. Caca mengangguk dengan senyum lebar "kita juga sayang kamu Sya" Aku hanya tersenyum pedih. Seperti inikah rasanya berpisah?

“Ca. Di dunia fana ini tidak ada yang kekal sama sekali. Di mana sebuah pertemuan pasti akan berakhir dengan sebuah perpisahan, setiap insan yang bernapas suatu saat mereka akan mengakhiri tarikan napas mereka. Seperti kita saat ini. Menjalani proses untuk saling meninggalkan satu sama lain” Caca hanya tersenyum menanggapi kalimatku barusan. Syukurlah, dia tidak berfikir yang aneh-aneh saat aku mengatakan hal barusan.
Semua terfokus pada lensa kamera di depan sana. Berbagai macam pose telah di lakukan. Semua orang tertawa dan bahagia menyambut hari ini.

Hingga saatnya tiba. Dimana kita resmi menjadi alumni dari sekolah tercinta.

Aku sedih, sesak kembali datang. Akankah hidupku juga berakhir seperti kisah dalam catatanku? Tidak. Ini tidak akan terjadi. Aku harus melawan semua rasa sakit ini. Aku harus kembali menuliskan kisah saat aku dan para sahabatku kembali berjumpa dengan kisah berbeda dalam catatan biru laut ku ini.

Nyatanya, semua hanya harapan. Aku terbaring dalam blankar rumah sakit dengan berbagai alat terpasang dalam tubuh kurusku. Bila di sini akhir hidupku, aku bisa apa? Tuhan mungkin lebih menyanyangiku dan telah mengizinkanku bertemu Alden-Adikku yang terlebih dahulu pergi meninggalkan orang-orang yang begitu menyayanginya, termasuk keluarganya sendiri saat usianya kala itu baru 1 bulan.

Tergesa, aku mencari buku catatan yang selalu aku bawa kemanapun, saat dirasa aku tak mampu lagi melawan rasa sakit ini terlalu lama. Tidak membutuhkan waktu lama, aku berhasil menorehkan tinta dalam catatan terakhirku saat cairan merah menetes tepat di akhir kalimatku.

▪▪▪ 

Semua orang yang berada di pemakaman ini meneteskan air mata. Kehilangan seseorang memang begitu menyakitkan, rasanya baru kemarin mereka menghabiskan waktu bersama dalam moment mengharukkan dan satu bulan setelahnya mereka mendapat kabar bahwa salah seorang teman mereka telah meninggal dunia. Umur memang menjadi rahasia sang pencipta. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang Tasya Amelia si cewek ceria harus berpulang ke rumah abadi di usia 18 tahun.

Satu persatu teman sekolah Tasya pergi meninggalkan area pemakaman dengan mata sembab. Namun tidak dengan keempat remaja ini dan orang tua sang sahabat. Mereka berdiri di tanah merah sang kasih, rumahnya saat ini.

"Harusnya aku peka sama ucapan terakhir kamu saat hari itu Sya" Caca menangis histeris, diikuti ketiga sahabatnya, Rere, Maya dan Indah. Mereka berjongkok di depan tanah basah milik Tasya-Sahabat mereka.

"Kita sayang sama kamu Sya. Sayang..."
“Amat sangat sayang..”
“Maafkan aku yang tidak menyadari perkataanmu kala itu. Kalau aku mengerti maksud ucapan kamu, kita akan ada di sisi kamu Sya, kita temani kamu melawan penyakit kamu. Kita ada untuk support kamu Sya. Bukan seperti ini. Kita benar-benar sahabat yang berengsek untuk kamu Sya.. Hikss... hikss..”

"Sayang, sudah ya. Jangan menangis. Tasya bahagia dan bangga mempunyai teman dan sahabat seperti kalian, yang begitu menyanyagi Tasya. Terima kasih telah hadir di hari terakhir Tasya, dan ini buku catatan milik Tasya. Tante berikan untuk kalian. Karena Tante rasa semua isi dari buku tersebut menceritakan perjalanan hidup kalian" Tante May tersenyum saat memberikan buku catatan itu pada sahabat dari anak perempuannya. Dia harus kuat di hadapan sahabat anaknya walau nyatanya May tak jauh berbeda dari mereka. Hatinya hancur di tinggalkan sang putri yang sebelumnya di tinggalkan Alden-Jagoan kecilnya.

"Tante tinggal ya, masih banyak yang harus Tante urus" May memeluk mereka dengan isak yang mengalir deras dari matanya, begitu pula dengan Caca, Rere, Maya dan Indah, bahkan Reza-Ayah Tasya juga menetaskan air mata. Tangannya tak henti mengelus punggung sang istri. Setelah cukup lega May pergi bersama sang suami meninggalkan mimpi buruk yang nyata.

Indah membuka buku catatan Tasya dan menemukan sepucuk surat lalau membacakan surat terakhir dari Tasya dengan pilu. Matanya tak kunjung reda oleh air mata.

Dear Girls.

Ini aneh dan nyeleneh. Jangan tertawa! Entah mengapa, rasanya aku harus menuliskan sebuah surat untuk kalian, aku harap kalian menerima dan membaca surat ini. Surat pertama dan terakhir dariku untuk kalian. Sahabat terbaikku.

Berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama? Kurasa cukup untuk menjadi catatan abadi dalam hatiku. Terima kasih kalian senantiasa menjadi teman catatanku selama 3 tahun terakhir. Terima kasih kalian telah menjadi orang yang rela aku temui kala hati gundah karena Doi ๐Ÿ˜‚Terima kasih telah mencintai dan menyanyangi manusia ini, Terima kasih banyak untuk kalian yang rela aku repotkan dan terima kasih kalian telah menjadi sahabat pertama dan aku harap menjadi yang terakhir di kehidupan fanaku.

Untuk Caca. Makasih kamu telah menjadi orang kepercayaan di girls squad๐Ÿ˜š karena Indah, Maya dan Rere mempunyai mulut ember dan aku ogah membeberkan rahasiaku namun, mereka tetap mengetahui juga pada akhirnya ๐Ÿ˜‚

Indah. Terima kasih Cantik, yang dengan sabar menghadapi mulut cerewetku ini ๐Ÿ˜ kala Caca, Maya dan Rere bosan. Kamu dengan setia mendengarkan walaupun aku tahu kamu pun sama bosannya dengan mereka ๐Ÿ˜‚

Maya. Jaga Ridho baik-baik ya. Jangan kamu galakin terus mantan kesayanganku๐Ÿ˜‚ Semoga kalian awet langeng sampe nikah. Aamiin!

Reree.. Aku tahu kamu anak pejabat. Tapi kenapa kamu tidak memberitahu kami semua?๐Ÿ˜‚ jujur, aku kecewa padamu Ree. Apalagi yang kamu rahasiakan Ree? Kami, kamu anggap apa selama ini? Mulailah terbuka pada mereka Ree.

Girls.

Maaf, aku merahasiakan ini dari kalian semua. Tidak ada yang tahu soal penyakitku ini, hanya Mama dan Papa yang tahu. Aku mengidap gagal ginjal dan itulah sebabnya, bila selama 3 tahun ini kalian tidak pernah melihatku dengan pakaian olahraga atau aku sering menolak ajakan kalian untuk keluar malam. Maaf. Aku tidak ingin menyusahkan kalian terlalu dalam dan pada saatnya kalian akan mengetahui, Jangan sedih, jangan nangis. Aku tetap ada dalam hati kalian. Jaga baik-baik girls squad. Apabila kalian rindu liatlah bintang di atas sana, aku akan ada dan selalu ada bersama kalian, melihat kalian dari atas sini.

Hahah.. Mungkin ini akan menjadi catatan terakhirku. Tak apa, Sekali lagi. Terima kasih, aku sayang kaliann ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š

Love,

Tasya.

Caca, Rere, Maya dan Indah terisak setelah membaca surat Tasya. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Begitupun hidup. Jadi, meskipun enggan. Mereka meninggalkan Tasya seorang diri dengan bibir melengkung ke atas. Tersenyum.
“Terima kasih Tasya, kamu bersedia menjadi sahabat terbaik kami sepanjang sejarah. Tenanglah di alam sana. Kami tidak akan pernah melupakanmu. Love you Tasya Amelia”

Jagalah persahabatan kalian. Karena bersama akan meringankan duka, dengan bersama kita lewati dunia dengan ringan. Bersama kita bahagia, bersama dunia menjadi lebih indah. Bersama sahabat sejati.


-TAMAT 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Bahasa Sunda : Cinta atawa Sahabat?

Cerpen : Senjaraya