Cerpen : Senjaraya
Senjaraya
Menjadi orang yang sukses adalah salah satu impian setiap orang, tidak terkecuali dengan seorang gadis yang masih berstatus sebagai pelajar SMK ini. Duduk di bangku kelas 2 SMK dengan jurusan Akuntansi yang di ambil tidak menyurutkan asa menggapai cita-cita sebagai seorang penulis. Senjaraya namanya atau kerap di sapa Senja oleh teman-temannya, meskipun ditentang habis-habisan oleh orang tuanya karena hobby membaca juga menulis, tidak menyurutkan Senja untuk berhenti dari dunianya, justru sebaliknya, Senja dengan sungguh-sungguh menekuni dunia yang menjadi temannya berbagi suka duka itu. Ingin membuktikan pada orang tuanya bahwa menjadi seorang penulis bukanlah pekerjaan 'Sampah' yang kerap orang tuanya katakan.
Kilatan blitz yang menyorot padanya menjadi bukti pada semesta yang meragukan kemampuan Senja selama ini. Bahwa apa yang mereka katakan tidaklah menjadi kenyataan malahan membuat dirinya berada di atas teman sekolahnya.
"Kak Senja" Teriakan itu berhasil membuyarkan lamunan Senja. Segerombolan manusia tengah menatapnya dengan sorot penasaran. Apa yang Senjaraya pikirkan dalam acara perdananya ini?
Senja tersenyum kaku. Malu juga tidak enak hati. Buru-buru Senja membuka suara dengan mikrofon berada di depan bibir agar semua orang yang memenuhi aula dapat mendengar suara merdu sang idola baru "Maaf maaf, aku nggak konsen banget yaa. Abisnya aku gugup berdiri di depan kalian" Senja tertawa menyembunyikan luka "Ini pengalam pertama saya berdiri dan berbicara di hadapan banyak orang"
Semua yang hadir tertawa akan sikap dan kelakuan Senja yang tak ada duanya. Persis seperti abg- memang Senja masih abg kok. Umurnya bahkan baru memasuki 17 tahun bulan kemarin.
Buru-buru sang pembawa acara membuka suara, membuka acara yang di hadiri Senja sebagai narasumber sekaligus sang pemilik acara dengan teriakan membahana "Assalamualaikum warahmatulloh wabarokatu"
Yang di balas dengan tak kalah semangat dari Dewi-Sang pembawa acara.
"Aku mau tanya. Gimana kabar kalian semuanya" Dewi kembali berteriak heboh.
Benar kata pepatah; Setelah badai menerpa pasti akan ada pelangi setelahnya. Senja mati-matian menggapai asa, dan semesta mengabulkan apa yang Senja pinta.
Senja masih tidak percaya apa yang tengah dirinya lakukan sekarang, berdiri di hadapan banyak orang dan menjadi idola karena sebuah karya adalah pencapaian yang luar biasa setelah sebelumnya berjuang hingga tiktik darah penghabisan.
“kakak, perkenalkan diri kakak dong. Kita mau tau nih. Selama ini kakak menyembunyikan semuanya dari kita. Yang kita tahu hanya nama kakak aja” Dewi memulai acara dengan sesi perkenalan.
Senja tertawa renyah. Pasalnya selama ini Senja tidak pernah mempublikasikan kehidupan pribadi. Biarlah Senja yang merasakan dan mengetahui dunia Senja dahulu.
Baiklah, saatnya Senja berbicara yang sesungguhnya.
“Nama saya Senjaraya, lahir di Bandung, 10 Agustus tahun 2000” Senja tersenyum getir sebelum melanjutkan “Anak kedua dari dua bersaudara, terlahir dari sebuah keluarga yang sangat menentang hobbi dan cita-cita saya menjadi seorang penulis”
Semua yang hadir mengatupkan bibir rapat. Tidak ada yang bersuara, semua mendengarkan kisah pilu nan penuh perjuangan dari seorang gadis berusia 17 tahun.
“Saat itu....” Mengalirlah cerita Senja dan air mata yang tak henti meluncur indah.
¤¤¤
Apa yang bisa aku lakukan, setelah semuanya sirna?
Hanya untaian kata yang dapat aku torehkan
Dalam kemelut jiwa yang menggerogoti
Wahai semesta,
Tidakkah kau berbaik hati pada kami
Yang mengharap namun tak juga mendapatkan?
Senjaraya menghela napanya berulang kali. Hanzelnya kembali menatap aksara yang terkumpul menjadi untaian kata dalam beberapa kalimat itu. Namun ketenangan Senja harus berakhir akibat teriakan sang Bunda yang menggelegar seantero rumah, memanggilnya untuk segera keluar dari istana pribadi menuju dapur untuk santap malam.
“Iya Bund, Senja turun sebentar lagi” balas Senja dengan teriakan pula.
Menutup laptop kemudian Senja beranjak meneruni tangga menuju meja makan.
“Kamu masih suka menulis Senja?” Ada apa ini? Mengapa topik rentan ini yang harus di bahas di atas meja makan? Kemarin, dengan pembicaraan yang sama. Mereka berdua bertengkar hebat. Bunda yang menentang dan Senja yang keukeuh mempertahankan cita-cita.
“Bunda baca postingan terbaru kamu tadi siang di blog. Kenapa masih nulis? Fokus pada pendidikan Senja. Kamu harus masuk kedokteran nanti, seperti kakak kamu yang membagakan Bunda dengan menjadi pilot”
Huh...
Apa selama ini Senja tidak bisa membagakan Bunda?
“Senja!” Senja tersentak kaget. Kepalanya menoleh ke kanan, ke arah sang Bunda.
“Dengerin Bunda nggak sih Senja?” Tanyanya sarkasik.
Senja mengangguk, tanpa terasa air matanya kembali mengalir, entah untuk keberapa kalinya dalam satu hari ini.
Senja beranjak dari tempat duduk “Adek udah kenyang Bun. Adek ke kamar duluan ya”
Sesampainya di kamar, Senja langsung menjatuhkan diri ke kasur empuknya. Menumpahkan segala rasa yang menghimpit dada. Mengeluarkan sesak yang kian lama kian melebar, tumpah ruah dengan segala rasa di dada. Sakit, kecewa, merasa diri yang paling hina di muka bumi.
Lelah karena menangis, Senjaraya terlelap dalam tumpukkan kertas puisinya.
¤¤¤
Matahari kembali menyapa, Senja terbangun dengan mata sembab akibat semalaman menangis. Tubuhnya keram, mungkin karena semalam Senja tertidur dengan duduk di atas meja belajar.
Matanya mengitari sekeliling, seketika rasa lelah dan kantuk hilang tergantikan dengan rasa terkejut akan apa yang Senja lihat pagi hari ini. Awal yang bagus bagi dirimu Senjaraya! Senja mengutuk diri dalam hati.
Jarum jam menunjukkan pukul 04.50. Memaksakan tubuh, Senja bangkit menuju kamar mandi. Mungkin dengan di siram air dingin, otak Senja tidak akan meledak saking panasnya. Semoga!
Bunda menyambut kedatangan Senja dengan sorot kecewa. Anak yang selama ini di banggakan, anak yang selama ini di harapkan untuk menjadi seperti dugaannya. Anak satu-satunya yang tersisa untuk meneruskan mimpinya, anak kesayangan Lisa-Ibunda Senja, anak yang selama ini Lisa manjakan, tega menghianati pengorbanan Lisa sebagai orang tua tunggal dengan menyukai dunia literasi. Mimpi buruk yang tengah Lisa perjuangkan supaya menghilang di setiap malam menyambut.
“Makan dulu sayang. Bunda sudah masak makanan kesukaan ade” Lisa berkata lembut, berharap sang anak dapat melupakan kejadian malam hari.
“Adek udah kesiangan Bun. Adek pergi” Papar Senja, meninggalkan sang Bunda dengan mata berkaca-kaca.
Finally! Kembali Senja mengeluarkan air mata. Mengapa semesta mempermainkan kehidupan Senja? Apa salah Senja?
Senja iri pada kak Adit yang bebas menentukan hidupannya sendiri. Kak Adit bisa menjadi apa yang dia cita-citakan. Kak Adit bisa menjadi anak kebanggaan Bunda dengan profesinya sekarang. Kak Adit, adek mau seperti kakak. Bunda melarang adek untuk melakukan hobby adek kak.
¤¤¤
Hari-hari berikutnya di lalui Senjaraya dengan berat hati. Rasa kecewa itu masih bersarang di dada, hingga rasanya Senja sudah tak sanggup untuk menampung. Namun, Senja hanyalah seorang anak yang berkewajiban berbakti pada orang tua. Oke. Senja kesampingkan masalah pribadi. Penulis bukanlah segalanya, yang segalanya bagi Senja adalah Bunda. Orang yang Senja sayangi dan hormati. Setelah kepergian Ayah-Bahkan sebelum Senja terlahir ke dunia. Senja lahir hanya mempunyai Bunda dan Kak Adit, tanpa Ayah. Seiring pertumbuhan, Senja kerap kali menanyakan keberadaan Ayah namun Bunda tak pernah menjawab pertanyaan Senja kecil begitu pula dengan kak Adit. Hingga Senja dewasa mengerti mengapa Ayah tak pernah datang menemui Senja sekalipun, bahkan untuk memeluk Senja saat pembagian rapot, karena pasti Senja mendapat juara pertama.
Senja fokus pada pendidikan, berusaha keras guna masuk perguruan tinggi bidang kedokteran, seperti harapan Bunda. Lalu, bagaimana dengan dunia literasi? Senja tidak sepenuhnya meninggalkan dunianya,, saat senggang-Di sekolah tentunya, Senja melanjutkan cerita-ceritanya, tentu bukan di tempat di mana sang Bunda dapat membaca semua tulisan Senja.
Senja menulis di Wattpad-Aplikasi tempat segala macam tulisan berada, dengan username @PenulisRahasia02.
Hingga suatu hal yang tak pernah Senjaraya pikirkan terjadi. Dengan kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan menjalani hidup. Senjaraya berhasil meraih apa yang dia cita-citakan, bahkan ketika Ujian Kenaikan Kelas tengah berlangsung. Salah satu cerita Senja di Wattpad yang berjudul “Story of Agatha” berhasil memikat salah satu penerbit terkemuka tanah air dan bersaing dengan buku-buku dari penulis favorit Senja. Senjaraya dan literasi adalah dua hal yang tak pernah bisa di pisahkan.
Mengetahui anaknya berhasil menjadi seorang penulis, Lisa pergi meninggalkan Senja dan Aditya. Hanya sepucuk surat yang menjadi sanksi bisu perginya sang Bunda.
Dear Love.
Selamat sayang, kamu akhirnya berhasil menjadi seorang penulis. Bunda Bangga, namun maaf, Bunda harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, juga Kak Adit.
Salam sayang,
Bunda :*
Ada satu hal yang harus kamu ketahui. Inilah duniamu sebenarnya, di mana kerasnya hidup harus kamu taklukan tentu dengan point-pointnya. Suatu keberhasilan atau kesuksesan di bayar dengan segala perjungan nyata yang kamu lakukan dan pengorbanan yang kamu relakan.
-TAMAT-
Komentar
Posting Komentar